اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي بِيَدِهِ مَفَاتِيْحُ الرِّزْقِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنِ. وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Mengatur seluruh keadaan hamba-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, teladan kita dalam menghadapi kelapangan maupun kesempitan.
Hari ini, kita mendapati wajah dunia yang penuh dengan dinamika. Di satu sisi, kita bersyukur saat harga sawit yang menggembirakan bagi para petani kita. Namun di sisi lain, kegembiraan itu seolah terhimpit oleh pupuk melambung tinggi, membuat selisih keuntungan kian tipis.
Belum selesai ujian itu, dunia menghadapi gejolak perang yang berakibat pada penutupan selat Hormuz, distribusi minyak dari timur Tengah ke pasar global jadi terhambat termasuk negara kita tercinta Indonesia, lalu kita dihadapkan pada kelangkaan BBM yang menghambat mobilitas dan distribusi, serta kenaikan harga plastic yang tampak sepele namun nyatanya hal itu memicu kenaikan harga-harga kebutuhan keluarga. Dapur para ibu mulai kesulitan, dan beban para ayah dalam mencari nafkah halal kian terasa berat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam situasi yang menghimpit ini, seorang mukmin diajarkan untuk memiliki kacamata iman. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang harus kita tanamkan di dalam dada:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).
Mengapa Rasulullah menyebutnya menakjubkan? Karena seorang mukmin tidak pernah patah semangat oleh keadaan lahiriah dunia. Mari kita simak kisah Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, sang hakim agung. Saat ia tampil megah, seorang Yahudi miskin penjual minyak yang kumal menggugatnya tentang hadits: “Dunia adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi kafir.”
Ibnu Hajar menjawab dengan sangat bijak:
“Segala kenikmatan yang aku rasakan sekarangtetap terasa seperti ‘penjara’ jika dibandingkan dengan kemewahan surga yang Allah janjikan. Sebaliknya, penderitaanmu sekarang tetap terasa seperti ‘surga’ jika dibandingkan dengan pedihnya siksa neraka kelak.”
Hadirin yang berbahagia,
Dunia ini hanyalah setetes air di ujung jari yang dicelupkan ke samudra. Jika hari ini kita merasa sulit karena harga-harga naik, ingatlah bahwa penderitaan ini hanyalah “setetes air” yang sementara. Jangan sampai kesulitan ekonomi ini membuat kita kehilangan “samudra” akhirat dengan cara mengeluh berlebihan, apalagi menempuh jalan yang haram demi menutupi kebutuhan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan sebuah ilustrasi yang sangat menyentuh hati. Beliau menggambarkan bagaimana seorang manusia yang di dunia hidup penuh kenikmatan, ketika dicelupkan ke neraka sekali saja, seluruh kenikmatan itu hilang tak berbekas. Sebaliknya, seorang manusia yang di dunia hidup penuh penderitaan, ketika dicelupkan ke surga sekali saja, seluruh kesedihan itu lenyap tanpa sisa.
Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Didatangkan penduduk neraka yang paling banyak nikmatnya di dunia pada hari kiamat. Lalu ia dicelupkan ke neraka dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan sedikit saja? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan sedikit saja?’ Ia mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku.’ Didatangkan pula penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalaminya” (HR. Muslim no. 2807).
Seorang mukmin di saat ekonomi sulit tetap terjaga integritasnya. Ia tetap “terpenjara” oleh aturan Allah: tidak boleh curang dalam timbangan, tidak boleh menimbun barang di saat rakyat susah, dan tidak boleh mengambil hak orang lain meskipun keadaan sedang mendesak. Inilah ujian kesabaran yang akan Allah balas dengan pahala tanpa batas.
Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Maka, mari kita hadapi kondisi ini dengan ikhtiar maksimal dan tawakal total. Syukuri hasil bumi yang membaik, dan sabari biaya hidup yang meningkat. Sebab bagi mukmin, selama iman masih ada di dada, tidak ada satu pun keadaan di dunia ini yang bisa merugikannya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ…
KHUTBAH KEDUA
أما بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Hadirin sekalian,
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, dunia ini memang tempat ujian. Kadang kita diberi kelapangan, kadang kita diuji dengan kesempitan. Namun seorang mukmin tidak pernah rugi, karena setiap keadaan bisa menjadi kebaikan bila disikapi dengan iman. Maka marilah kita jaga hati kita dengan syukur dan sabar, serta tetap berpegang teguh pada aturan Allah dalam mencari nafkah dan menjalani kehidupan.
Ingatlah, satu celupan di surga akan menghapus seluruh penderitaan dunia, dan satu celupan di neraka akan menghapus seluruh kenikmatan dunia. Karena itu, jangan sampai kesulitan hidup membuat kita tergelincir pada jalan yang haram, dan jangan pula kenikmatan dunia membuat kita lalai dari akhirat.
Hadirin sekalian, mari kita akhiri khutbah ini dengan memperbanyak doa, memohon kepada Allah agar Dia menguatkan iman kita, melapangkan rezeki kita, menjaga keluarga kita, serta menjadikan celupan pertama kita kelak adalah ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan.
Doa Penutup
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ